Laporan
mempunyai peranan yang penting pada suatu organisasi karena dalam suatu
organisasi dimana hubungan antara atasan dan bawahan merupakan bagian dari
keberhasilan organisasi tersebut. Dengan adanya hubungan antara perseorangan
dalam suatu organisasi baik yang berupa hubungan antara atasan dan bawahan,
ataupun antara sesama karyawan yang terjalin baik maka akan bisa mewujudkan
suatu sistem delegation of authority dan pertanggungjawaban akan terlaksana
secara effektif dan efisien dalam organisasi.
Pengertian laporan adalah bentuk penyajian fakta tentang suatu keadaan atau
suatu kegiatan, pada dasarnya fakta yang disajikan itu berkenaan dengan
tanggung jawab yang ditugaskan kepada si pelapor. Fakta yang disajikan
merupakan bahan atau keterangan berdasarkan keadaan objektif yang dialami
sendiri oleh si pelapor (dilihat, didengar, atau dirasakan sendiri) ketika si
pelapor melakukan suatu kegiatan.
Dasar-dasar laporan
Dasar – dasar membuat Laporan
a.Clear
Kejelasan suatu laporan diperlukan baik kejelasan dalam pemakaian bahasa,
istilah, maupun kata-kata harus yang mudah dicerna, dipahami dan dimengerti
bagi si pembaca.
b.Mengenai sasaran permasalahannya
Caranya dengan jalan menghindarkan pemakaian kata-kata yang membingungkan atau
tidak muluk-muluk, demikian juga hal dalam penyusunan kata-kata maupun kalimat
harus jelasm singkat jangan sampai melantur kemana-mana dan bertele-tele yang
membuat si pembaca laporan semakin bingung dan tidak mengerti.
c.Lengkap (complete)
Kelengkapan tersebut menyangkut :
Permasalahan yang dibahas harus sudah terselesaikan semua sehingga tidak
menimbulkan tanda tanya
Pembahasan urutan permasalahan harus sesuai dengan prioritas penting
tidaknya permasalahan diselesaikan
d.Tepat waktu dan cermat
Tepat waktu sangat diperlukan dalam penyampaian laporan kepada pihak-pihak yang
membutuhkan karena pihak yang membutuhkan laporan untuk menghadapi
masalah-masalah yang bersifat mendadak membutuhkan pembuatan laporan yang bisa
diusahakan secepat-cepatnya dibuat dan disampaikan.
e.Tetap (consistent)
Laporan yang didukung data-data yang bersifat tetap dalam arti selalu akurat
dan tidak berubah-ubah sesuai dengan perubahan waktu dan keadaan akan membuat
suatu laporan lebih dapat dipercaya dan diterima.
f.Objective dan Factual
Pembuatan laporan harus berdasarkan fakta-fakta yang bisa dibuktikan
kebenarannya maupun dibuat secara obyektif.
g.Harus ada proses timbal balik
1.Laporan yang baik harus bisa dipahami dan dimengerti
sehingga menimbulkan gairah dan minat si pembaca
2.jika si pembaca memberikan respon berarti menunjukkan
adanya proses timbal balik yang bisa memanfaatkan secara pemberi laporan maupun
si pembaca laporan
Sistematika
laporan
Laporan lengkap yang lengkap, harus dapat menjawab
semua pertanyaan mengenai : apa ( what ), mengapa ( why ), siapa ( Who ),
dimana ( where ), kapan ( when ), bagaimana ( how ).
Urutan isi laporan sebaiknya diatur, sehingga penerima laporan dapat mudah
memahami. Urutan isi laporan antara lain sebagai berikut :
1.Pendahuluan
Pada pendahuluan disebutkan tentang :
1) Latar belakang kegiatan.
2) Dasar hukum kegiatan.
3) Apa maksud dan tujuan kegiatan.
4) Ruang lingkup isi laporan.
2.Isi Laporan
Pada bagian ini dimuat segala sesuatu yang ingin dilaporkan antara lain :
1) Jenis kegiatan.
2) Tempat dan waktu kegiatan.
3) Petugas kegiatan.
4) Persiapan dan rencana kegiatan.
5) Peserta kegiatan.
6) Pelaksanaan kegiatan (menurut bidangnya, urutan waktu pelaksanaan, urutan
fakta / datanya).
7) Kesulitan dan hambatan, hasil kegiatan.
9) Kesimpulan dan saran penyempurnaan kegiatan yang akan datang.
Contoh Laporan resmi
Contoh laporan resmi
SURAT KUASA PELAPORAN & PENGADUAN PENIPUAN ke KEPOLISIAN
Yang bertanda tangan dibawah ini, kami :
Tn. PRASASTI DIWANTORO, ST.
Wiraswasta, Kristen, 59 Tahun, beralamat di Desa
Gantung Redjo 781 Rt 022 Rw 35 Kuningan.
dengan ini mengaku dan menyatakan memberi kuasa
kepada :
1. VIRGO RIMALA DWITAMA, SH.
2. DIRGANTARA ADI BAYU, SH.
============================
ADVOKAT/PENGACARA – KONSULTAN HUKUM
di Kantor Advokat VIRGO RIMALA DWITAMA, SH &
PARTNERS
Jl. Dr. Soeharto 14 Surabaya
Telp & Fax (022) 5211551
===== K H U S U S =====
Baik sendiri maupun bersama-sama
Untuk menjadi Penasehat Hukum bagi diri kami dalam
Perkara: PIDANA
Sebagai : Penasehat Hukum Pelapor
Untuk :
Mendampingi Pemberi Kuasa, Melaporkan seseorang yang bernama Ny. DINASA
SAVIRA, SPd. Pensiunan, 59 tahun Dan Suaminya
Tn.Victor Hutahuta, PNS, 60 tahun yang bertempat tinggal sama dengan isterinya di Gg. Garputala UH 6 No. 917 Rt 0213 Rw 017, Legonalan, Tegal Maju,
Surabaya. Dugaan telah melakukan Tindak Pidana Penipuan
dalam jual – beli sebidang tanah Vervoding 633 Psl
633/Tegal Parang Lt: 20.989 m2a.n; DINASA SAVIRA yang di Konversi SHM
3151/Tegal Parang a.n: DINASA SAVIRA, SPd. Lt: 20.989 m.2 Dalam Perikatan Jual
– Beli No. 08 tertanggal 19 Januari 1998 di Notaris & PPAT Surabaya Rr.
Riana Sima Diana, SH. Sebagaimana dimaksud dan diatur dalam pasal 385 KUHPidana
di Poltabes Surabaya.
Pada : Wilayah Hukum Pengadilan
Negeri Surabaya
Untuk itu kepada pemegang kuasa tersebut
diatas, kami beri hak dan wewenang :
a. Mewakili, menghadap dan berbicara dimuka Persidangan
Pengadilan Negeri dimana perkara ini diperiksa, dan atau berbicara di hadapan
Pejabat Instansi Pemerintah/Swasta lainnya, ataupun perorangan yang ada
hubungannya dengan perkara ini, membuat dan mengajukan Eksepsi, menjawab,
membantah hal-hal yang tidak benar mengajukan bukti-bukti dan saksi-saksi,
menolak bukti-bukti dan saksi dalam keterangannya yang tidak benar, mengajukan
permohonan, menerima putusan dan lain-lain upaya hukum yang baik dan berguna
bagi pemberi kuasa, serta diperbolehkan menurut Hukum Acara
Pada pokoknya mengerjakan segala sesuatu yang
dipandang baik dan perlu dalam urusan tersebut, guna kepentingan pemberi kuasa
dan tidak bertentangan dengan hukum ;
a. Kuasa ini
diberikan Hak “ Substitusi “ kepada orang lain apabila berhalangan.
Surabaya, 13 Juni 2001
Penerima Kuasa
: Pemberi Kuasa :
VIRGO RIMALA DWITAMA, SH.
Tn. PRASASTI DIWANTORO, ST.
Sehubungan dengan informasi yang saya terima mengenai kebutuhan tenaga kerja
yang ada di perusahaan bapak/Ibu, Saya tertarik untuk menempati posisi yang sesuai dengan kemampuan saya di perusahaan Bapak/Ibu.
Dengan ini saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Yerine Emanda
Alamat : Komp. TVRI blok E2
no.12 Jatirahayu, Pondok Melati 17414
Telepon : 085693205570
Hendak Berpartisipasi dan bergabung di Perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin,
Sebagai bahan pertimbangan yang saya cantumkan :
~ Pas foto close up
~ Surat Lamaran
~ Daftar Riwayat Hidup
Dengan latar belakang pendidikan ,saya bersedia ditempatkan di posisi yang
dibutuhkan sesuai dengan latar belakang saya tersebut. Besar harapan saya agar
Bapak/ Ibu berkenan menerima surat lamaran ini, atas perhatiannya saya ucapkan
terima kasih.
Hormat Saya,
Yerine Emanda
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
Yerine Emanda
Tempat & tanggal lahir : 15
Januari 1992
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama :
Islam
Tinggi / Berat Badan : 155 / 50
Alamat :
Komp. TVRI blok E2 no.12 Jatirahayu, Pondok Melati 17414
Makalah adalah karya tulis ilmiah mengenai suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup pengetahuan (Ismail Kusmayadi, 2006:32). Pendapat lain mengemukakan pengertian makalah adalah karya tulis ilmiah yang membahas pokok masalah tertentu dan makalah disusun untuk disajikan dalam pertemuan formal tertentu, seperti seminar atau diterbitkan dalam majalah ilmiah.
Ciri-ciri makalah
Makalah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Merupakan hasil kajian literatur atau hasil laporan pelaksanaan kegiatan lapangan mengenai suatu permasalahan.
2. Mendemonstrasikan pemahaman teoritik dan kemampuan menerapkan prosedur, prinsip dan teori yang berhubungan dengan permasalahan
3. Menunjukkan kemampuan pemahaman isi dan berbagai sumber yang digunakan.
4. Mendemonstrasikan kemampuan menyusun berbagai sumber informasi dalam satu kesatuan sintesis yang utuh.
Macam-macam makalah
Makalah dibagi menjadi 3 macam yaitu :
a. Makalah Ilmiah
Makalah Ilmiah pada umumnya dipakai bagi karya tulis hasil studi ilmiah yang berisi masalah dan pembahasan. Perlu diperhatikan bahwadilihat daris segi prinsip dan prosedur ilmiahnya, makalah ilmiahnya menyerupai laporan penelitian sederhana.
Makalah ilmiah biasanya ditulis sebagai suatu saran pemecahan masalah secara ilmiah. Sudah barang tentu, penulis makalah ilmiah memerlukan studi keperpustakaan dan ini terlihat pada revenisi yang dicantumkan.
b. Makalah Kerja
Makalah Kerja pada umumnya dibaca pada seminar makalah kerjadisampaikan dalam bentuk argumentasi dalam suatu hasil penelitian. Dalam makalah kerja yang dibacakan itu harus ada masalah.Penyampai makalah kerja sudah memasukkan asumsi dan hipotesis untuk menjawab masalah. Berdasarkan isi makalah demikian, timbul lah diskusi.
c. Makalah Kajian
Istilah ini dipakai untuk karya tulis ilmiah yang merupakan saran pemecahan suatu masalah yang kontroversial tanpa maksud untuk dibaca dalam suatu seminar.
Langkah-langkah Penulisan Makalah
Dalam pembuatan/ menyusun makalah, perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
• Mempelajari/ menganalisa topik yang akan ditulis
• Menyusun pola pikir, meliputi :
a. Pokok masalah dalam topik.
b. Menentukan tujuan dan ruang lingkup
• Pengumpulan bahan-bahan materi (referensi)
• Menulis atau menyusun makalah dituntut :
a. Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
b. Susunan kalimat yang mudah dipahami.
c. Rangkaian uraian yang berkaitan
d. Singkat, padat, tegas, dan jelas dalam uraian.
e. Menulis/ menyusun makalah secara “tidak bombastis”, banyak atau panjangkalimatnya tanpa isi yang jelas
Sistematika Makalah
Secara garis besar makalah yang ditulis mahasiswa terdiri dari tiga bagianpokok sebagai berikut :
a. Pendahuluan
Memuat tentang persoalan yang akan dibahas antara lain meliputi latar belakang masalah, fokus dan rumusan masalah, prosedur pemecahan masalah dan sistematika uraiannya
b. Isi
yakni bagian yang memuat tentang kemampuan penulis dalammendemonstrasikan kemampuannya untuk menjawab persoalan ataumasalah yang dibahasnya. Pada bagian isi boleh terdiri dari lebih satubagian sesuai dengan permasalahan yang dikaji
c. Kesimpulan
yakni bagian yang memuat pemaknaan dari penulisterhadap diskusi atau pembahasan masalah berdasarkan kriteria dan sumber-sumber literatur atau data lapangan.
Kesimpulan ini mengacu kepada hasil pembahasan permasalahan dan bukan merupakan ringkasandari isi makalah.
Sumber :
http://ridwanaz.com/umum/akademik/pengertian-dan-panduan-atau-petunjuk-teknik-menulis-makalah/
MAKALAH PENDIDIKAN >> Cara Membuat Makalah Pendidikan | belajarpsikologi.com
http://www.scribd.com/doc/21749653/pengertian-dari-MAKALAH
http://ilvandri.wordpress.com/tag/pengertian-makalah/
A. Latar Belakang Masalah
Ujian Akhir Nasional
Dalam beberapa tahun terakhir selalu menjadi topik menarik menjelang pertengahan tahun atau pergantian tahun ajaran. Setiap tahun selalu terjadi perubahan kebijakan dan standar nilai yang menjadi patokan akan lulus atau tidaknya seorang pelajar. Dan di setiap tahun pula peraturan-peraturan ini selalu menjadi pertentangan yang tergolong kontradiktif. Why? Yuk, kita liat pandangan fie tentang UAN dan kenapa banyak sekali kasus dimana para kalangan remaja melakukan contek-mencotek. Seringkali kita mendengar tentang solidaritas remaja yang kadang kala disalahartikan atau mungkin juga ini adalah dampak dari pergeseran nilai sosial sehingga para remaja sekarang mengartikan bahwa sikap solider itu adalah bagaimana kita membantu teman, baik itu dalam hal positif maupun negatif. Sikap solidaritas remaja dibagi menjadi dua hal, yaitu solidaritas yang positif dan solidaritas negatif, jika solidaritas ditanggapi secara positif oleh remaja sekarang maka dampaknya akan baik sekali untuk perkembangan kehidupan sosial mereka di masa yang akan datang. Tetapi jika sikap solidaritas ini sudah menyimpang dari arti yang sebenarnya inilah yang membuat sikap solidaritas itu sendiri menjadi negatif. Melihat fenomena ini kita juga sering melihat para siswa di sekolah misalnya pada saat ujian berlangsung mereka membantu temannya dengan cara memberikan jawaban dengan alasan bahwa itu merupakan sikap solider. Biasanya kalau kita tidak kasih jawaban sama temen yang Tanya kita dibilang pelit, tidak solider, padahal kita juga serba salah, gimana ya kalau gini kan artinya kita udah berbuat curang,
Bab II
Perilaku Menyontek Sebagai Sikap Menghadapi Ujian
1. Pengertian dan pembentukan sikap
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Sikap adalah “ perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pendirian Sikap yang dalam Bahasa Inggris disebut Attitude adalah segala suatu yang bereaksi terhadap suatu perangsang.
Dalam arti sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987), sikap (Attitude) adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang. Sedangkan menurut Sherif ( 1956) mengartikan sikap dengan sejenis motif sosiogonis yang di peroleh melalui proses belajar. atau kemampuan internal yang berperan sekali mengambil tindakan, lebih – lebih bila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak dan bersedia beberapa alternatif. Sikap juga suatu individu-individu yang tidak hanya mempunyai gambaran mengenai objek dan subjek disekelilingnya, yang mempunyai perasaan terutama berkaitan erat dengan kebutuhan yang di miliki tiap-tiap individu.
Sikap pada aspek afektif merupakan aspek yang menentukan seseorang bertindak, karena kemauan atau kerelaan bertindaklah yang menentukan seseorang berbuat sesuai dengan sikap yang dimilikinya. Namun demikian aspek yang yang lainnya ikut mempengaruhinya.
Sikap dapat didefinisikan sebagai kesiapan sesorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal – hal tertentu Adapun pembentukan dan perubahan sikap dapat dilakukan melalui empat macam cara :
a Adopsi, yaitu kejadian – kejadian atau peristiwa yang terjadi berulang – ulang dan terus menerus lama kelamaan secara bertahap diserap ke dalam diri individu dan mempengaruhi pembentukan sikap.
b. Diferensiasi, yaitu dengan perkembangan intelegensi, bertambahnya pengalaman sejalan bertambahnya usia, maka ada hal yang tadinya dianggap sejenis, kemudian dipandang tersendiri lepas dari jenisnya.
c. Integrasi, yaitu pembentukan sikap, disini secara bertahap dimulai dari berbagai pengalaman yang berhubungan dengan suatu hal tertentu sehingga akhirnya berbentuk sikap mengenai hal tersebut.
d. Trauma, yaitu pengalaman yang tiba – tiba, mengejutkan, meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman yang traumatis dapat juga terbentuknya sikap.
Pembentukan sikap tidak terjadi demikian saja, melainkan melalui proses tertentu, melalui kontak sosial terus menerus antara individu dan individu dan orang di sekitarnya.
2. Pengertian Menyontek Dalam Pelaksanaan Ujian
Menyontek memiliki arti yang beraneka macam, akan tetapi biasanya dihubungkan dengan kehidupan sekolah, khususnya bila ada ulangan dan ujian. Biasanya usaha menyontek dimulai pada waktu ulangan dan ujian akan berakhir, namun demikian tidak jarang usaha tersebut telah dimulai sejak ujian dimulai.
Walaupun kata menyontek telah dikenal, sejak lama namun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tersebut tidak dapat ditemukan secara langsung, kata menyontek baru ditemukan pada kata jiplak menjiplak yaitu mencontoh atau meniru ( tulisan pekerjaan orang lain ).
Dalam Kamus Modern Bahasa Indonesia istilah menyontek memiliki pengertian yang hampir sama yaitu “ Tiru hasil pekerjaan orang lain”. Maka dapat disimpulkan menyontek dalam pelaksanaan ujian adalah mengambil jawaban soal – soal ujian dari cara – cara yang tidak dibenarkan dalam tata tertib ujian seperti : dari buku, catatan, hasil pemikiran temannya dan media lain yang kemudian disalin pada lembar jawaban ujian pada saat ujian berlangsung.
Faktor – faktor Penyebab siswa menyontek saat melaksanakan ujian dan ulangan antara lain adalah :
a. Tekanan yang terlalu besar yang diberikan kepada “hasil studi” berupa angka dan nilai yang diperoleh siswa dalam test formatif atau sumatif
b. Pendidikan moral baik di rumah maupun di sekolah kurang diterapkan dalam kehidupan siswa
c. Sikap malas yang terukir dalam diri siswa sehingga ketinggalan dalam menguasai mata pelajaran dan kurang bertanggung jawab
d. Anak remaja lebih sering menyontek dari pada anak SD, karena masa remaja bagi mereka penting sekali memiliki banyak teman dan populer di kalangan teman- teman sekelasnya
e. Kurang mengerti arti dari pendidikan
Dari beberapa faktor penyebab di atas, dapat dikatakan siswa memiliki masalah di sekolah dan konsep diri yang rendah. Maka sebagai guru agama berkewajiban memberikan motivasi siswa yang menyontek saat ujian dan ulangan dengan membiasakan bersikap jujur dalam setiap perbuatan yang dilakukan siswanya dan membangkitkan konsep percaya diri dan berusaha diri yang lebih baik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam setiap kegiatan secara maksimal guru agama Islam dalam memahami masalah siswa, menurut Muhaimin dan Abd. Mujib adalah sebagai berikut:
1. Siswa bukanlah miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri sehingga metode belajar mengajar tidak boleh disamakan denagan orang dewasa.
2. Siswa mengikuti periode- periode perkembangan tertentu dan mempunyai pola perkembangan serta tempo dan iramanya. Implimintasi terhadap pendidikan adalah bagaimana menyesuaikan proses pendidiakn itu dengan pola dan tempo, serta irama dan perkembangan siswa itu sendiri.
3. Siswa memiliki kebutuhan dan menuntut untuk memenuhi kebutuhan itu semaksimal mungkin.
4. Siswa memiliki perbedaan antara individu – individu dengan individu yang lain, baik perbedaan yang disebabkan faktor endogen ( fitrah) maupun eksogen ( lingkungan) yang meliputi segi jasmani, intelegensi, sosial, bakat, minat dan lingkungan yang mempengaruhinya.
5. Siswa dipandang sebagai kesatuan sistem manusia ( cipta, rasa ,karsa).
6. Siswa merupakan objek pendidikan yang aktif dan kreatif serta produktif.
Bab III
Gambaran Pendidikan Indonesia
A. Dari Sisi Pemerintah
Standar nilai yang selalu mengalami peningkatan merupakan salah satu usaha pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas lulusan sekolah menengah maupun sekolah dasar. Tuntutan untuk memenuhi minimal jumlah maupun rata-rata nilai yang telah ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional seharusnya memacu peserta didik untuk bersungguh-sungguh dalam memahami setiap mata pelajaran, sebuah tujuan utama dari diterapkan Sistem Pendidikan. Menyadarkan para siswa akan tanggung jawabnya sebagai peserta didik, yang kemudian justru dianggap sebagai beban berlebih sehingga menaikkan tingkat stress anak.
Kalau pada tahun-tahun sebelumnya jumlah anak yang mengerti akan tanggung jawab terhadap nilainya sendiri jauh lebih kecil daripada anak yang menganggap sekolah hanya sekedar kewajiban pulang dan pergi ke lembaga pendidikan formil sedari jam 7 pagi hingga pukul 2 siang (tanpa jaminan tetap menjejakkan kaki di dalam lingkungan sekolah pada jam-jam diantaranya). Atau pergi ke sekolah hanya untuk memamerkan jam tangan baru atau ringtone lagu-lagu terbaru yang sedang tren di kalangan remaja dengan tujuan menarik perhatian lawan jenisnya. Ya ampuun, pergaulan jaman sekarang
Tapi, apa iya sistem yang diterapkan itu cukup efektif? padahal ketersediaan sarana dan prasarana setiap sekolah dari ujung Sabang sampai Merauke masih sangat beragam? Mengapa harus menjadi syarat mutlak untuk masuk ke jenjang sekolah berikutnya? Alangkah lebih adil kalau ujian masuk disesuaikan dengan sekolah penerima masing-masing? seperti UMPTN / SPMB barangkali, atau pilihan ujian masuk yang terdiri dari berbagai tahapan untuk menilai semua kompetensi, tergantung orientasi masing-masing sekolah penerima, misalnya sekolah teknik tidak terlalu membutuhkan anak dengan kompetensi seni yang sangat tinggi sedangkan nilai fisikanya hampir mencapai nilai minimal.
B. Sekarang kita lihat dari sisi si Anak
Menjadi beban berlebih mungkin terasa sangat berat bagi kebanyakan anak sekolah yang terbiasa santai menghadapi angka-angka merah di rapotnya. Tetapi tidak jika si Anak sudah dilatih dengan terapi penanggulangan stress berlebih sejak dini. Maaf, saya mengambil contoh saat usia SMU dulu. Pendidikan SMU saya mungkin berbeda dengan kebanyakan sekolah negeri maupun swasta lainnya, kehidupan penuh tekanan. Namun di antara tekanan-tekanan tersebut, ada keinginan untuk meraih hasil terbaik di setiap mata pelajaran, bagi saya sekalipun yang harus mengikuti hampir setiap HER yang diadakan. Awalnya saya berpikir bahwa ini adalah mimpi buruk, berdiri di tengah-tengah para Superior dan harus ikut bersaing mendapatkan posisi terbaik, paling tidak untuk bertahan agar tidak terlalu memalukan.
Suasana belajar yang tidak pernah telat diabsen oleh setan kantuk, serta cara mengajar guru yang berbeda-beda, juga kondisi fisik dan mental yang dipaksa untuk tidak hanya memikirkan masalah nilai dan pelajaran formil, agaknya membentuk kami untuk merasa wajib bertanggung jawab terhadap diri sendiri, bertanggung jawab terhadap masa depan yang ditentukan oleh kami sendiri.
Jangankan Ujian Nasional (dulu disebut EBTANAS), ulangan harian biasa saja harus dipaksa memeras otak sedemikian rupa demi menghindari Remidial atau pengulangan ujian bagi para siswa yang mendapat nilai kurang dari 6,00. Belum lagi pengawas ulangan superketat yang tidak mengizinkan sedikitpun kegiatan contek mencontek dan bekerja sama untuk mata pelajaran yang bersifat individu, apalagi mengingat ancaman terberat jika seorang siswa diketahui sedang mencontek atau melakukan tindakan tidak jujur lainnya, yaitu dikeluarkan dari sekolah.
Bandingkan dengan realitas masa kini yang mana saat Ujian Nasional berlangsung dihadapi dengan santai oleh peserta, cukup menunggu kiriman pesan singkat lima menit menjelang waktu ujian berakhir dan menyalin semua jawaban yang dikirimkan oleh “seorang oknum” dunia pendidikan yang menggadaikan masa depan ratusan peserta ujian demi puluhan juta rupiah tak berharga.
C. Dari Sisi Sekolah, Guru dan Orang Tua
Tak jarang hanya demi menjaga nama baik sekolah, agar terkesan memiliki kualitas pendidikan yang baik, pihak Sekolah melakukan berbagai upaya untuk mempertinggi persentase angka kelulusan. Memberikan les tambahan di luar jam pelajaran standar misalnya, sebuah usaha yang patut diacungi jempol ya kan?
Namun ketika pihak Sekolah telah kehabisan cara untuk mempertahankan kredibilitasnya sebagai sekolah terpandang, bisa jadi bukan hanya memperbolehkan peserta ujian untuk melakukan praktek-prektek ketidakjujuran, tetapi bahkan ikut membuka jalan agar siswa dengan mudah dapat memperoleh jawaban yang “belum tentu benar”, atau menyiapkan segepok lembar seratus ribuan yang diserahkan kepada sang pemberi jawaban.
Mirisnya lagi, sang dewa yang diagung-agungkan untuk memberi bocoran jawaban bukanlah orang yang jauh dari dunia pendidikan, bahkan mungkin personil tangguh dari jajaran tim akademis yang setiap hari selalu mengkoar-koarkan teori relativitas einstein atau struktur kalimat S-P-O-K. Okelah anda pintar, tapi perlukah sebegitu sombongnya dengan membuat anak didik menjadi pemalas?? Kalau saya seorang guru, tentu sangat terhina dengan tindakan pelecehan martabat terhadap profesi Guru, tindakan tadi sama saja mengartikan bahwa saya gagal menularkan ilmu yang saya miliki kepada para penerus kehidupan bangsa ya toh? *kecuali ilmu mencontek*, Naudzubillah..
Saya sering memikirkan mengenai kesadaran seorang Guru tentang esensi yang terkandung dalam profesi Guru yang sesungguhnya, yang maaf, akhir-akhir ini jarang dimiliki oleh beberapa Guru di Sekolah. Apakah iya, bekerja hanya untuk mencari uang? Ibu saya seorang Guru, beliau terkadang marah namun lebih sering bersikap sabar mengajari seorang anak kelas 1 yang sedang mencoba membaca dan menulis. Jangan diremehkan kemampuan mengajar beliau dalam bidang Sains, terbukti dalam beberapa kali penanganan persiapan ujian terhadap siswa kelas VI SD, nilai rata-rata kelasnya melonjak naik melebihi target. Kata Ibu “Seorang Guru itu mempunyai kepuasan tersendiri yang tidak terkira tatkala anak muridnya berhasil dan sukses”, lebih dari sekedar hampir dua juta rupiah yang diterimanya setiap bulan.
Dukungan Orang tua mempunyai peran penting terhadap kondisi psikologis si anak. Tuntutan yang terlalu berlebih kepada sang Anak justru semakin membuatnya merasa tertekan. Saya dulu, tidak pernah dituntut untuk mendapatkan nilai tertinggi atau paling tidak menduduki peringkat tiga besar di sekolah, bahkan ketika saya berada pada posisi ke-17 dari 22 siswa, saya tidak pernah sekalipun dimarah karna angka 9 hampir tidak pernah bertengger dalam Rapor SMU saya, alih-alih angka 6 yang semakin banyak menghiasi setiap mata pelajaran. Namun saya tidak lalu bertahan pada posisi yang sama, perubahan yang berjangka, itu yang saya alami semasa 3 tahun di SMU.
Peran orang tua juga sangat berpengaruh terhadap minat dan bakat Anak. Kalau si anak lebih menyukai Sejarah dan Sosiologi, lalu kenapa harus dipaksa masuk ke kelas IPA? Saya sendiri sangat kagum pada para Sosiolog, SEjarawan, maupun Sastrawan yang benar-benar setia di bidangnya. Profesi yang dikaitkan dengan hobi dan kesukaan tentunya lebih baik ya daripada sekedar tahu namun tidak suka.
Bab IV
Cara Mengatasi Perilaku Menyontek
Meskipun tenaga pengajar harus mengambil tindakan untuk mempertahankan dan mengembangkan pola perilaku dipihak siswa yang mendukung belajar disekolah, namun ia akan tetap dihadapkan pada perilaku yang menghambat dan di fromokasikan dengan siswa yang menganggu dan mengancam.
Pada saat ini, tidak dapat disangkal bahwa guru dikelas kerap ditantang untuk mengatasi tingkah laku sejumlah siswa yang deskruftif, lebih – lebih dikota besar. Gejala umum ini bersumber pada berbagai faktor penyebab,yaitu runtuhnya disiplin hidup bersama dalam masyarakat, menipisnya kesadaran dan tanggung jawab sosial banyak kalangan, suasana sekolah yang kurang memberikan kepuasan pada siswa, rasa ketertiban sebagai tenaga kependidikan dipihak sejulah guru yang mengendor. Guru sebagai orang terdekat dalam pembelajaran disekolah, memiliki tanggung jawab membimbing siswa. Tindakan guru pada umumnya dalam pelaksanaan ujian dan ulangan dengan memberikan penguatan dan peneguhan terhadap sikap dan perilaku mereka yang positif, dimana mereka berusaha sendiri menyelesaikan tugasnya dengan baik dan tertib.
Namun bila tidak ada perilaku positif yang dapat diberikan penguatan dan peneguhan maka dibutuhakan pendekatan lain yaitu:
a. Cuing Promping, yaitu siasat memberikan tanda, guru menyajikan suatu perangsang yang berfungsi sebagai pemberitahuan bahwa siswa diharapkan berbuat sesuatu yang sebenarnya dapat mereka lakukan, tetapi belum dilakukan.
b. Model, yaitu guru memberikan model yang ditiru oleh siswanya.
c. Shaping, yaitu membuat tingkah laku secara berlahan – lahan, yaitu setiap tingkah laku siswa, seperti mengatur buku, menyapa guru atau teman, cara ini memerlukan kesabaran yang sangat dari guru.
Adapun tindakan kuratif guru, berlaku bagi siswa yang sudah terbiasa dengan contek mencontek, dengan memberikan peringatan .
bentuk kongkrit dari peringatan dapat bermacam-macam,yaitu :
1. Teguran Verbal, yaitu mendekati siswa tertentu dengan berbicara suara kecil sehingga tidak terdengar oleh teman sekelas.
2. Mengambil suatu hal yang digemari atau disukai siswa, seperti mengikuti kegiatan tertentu atau menyerahkan benda yang dipegangnya.
3. Mengisolasi siswa dari teman – temannya untuk waktu tidak terlalu lama, seperti memindahkannya diruang kosong atau tempat yang jarang dilalui orang.
Jadi dari bentuk tindakan guru yang telah dipaparkan, guru dapat membantu siswanya untuk meninggalkan kebiasaan menyontek dalam ujian atau ulangan dengan berusaha.
a. Membentuk hubungan saling menghargai antara guru –siswa, serta menolong murid bertindak jujur dan tanggung jawab.
b. Membuat dan mendukung peraturan sehubungan dengan menyontek, karena siswa memahami peraturan dari tindakan guru.
c. Mengembangkan kebiasaan dan keterampilan belajar yang baik dan menolong siswa merencanakan, melaksanakan cara belajar siswa.
d. Tidak membiarkan siswa menyontek jika hal tersebut terjadi dalam kelas dengan teguran atau cara lain yang pantas dengan perbuatannya, sebagai penerapan disiplin.
e. Menekankan “ Belajar” lebih sekedar mendapat nilai, yaitu membantu siswa memahami arti belajar sebagai suatu tujuan mereka sekolah, dan nilai akan berarti bila murni dengan kemampuan siswa sendiri.
f. Bertanggung jawab merefleksikan “kebenaran dan kejujuran”, yaitu guru menjadikan diri sebagai teladan siswa dalam menanamkan nilai kebenaran dan kejujuran.
g. Menggunakan test subjektif sebagai dasar proses ulangan dan ujian.
Bab V
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan , menyikapi fenomena contek mencontek dikalangan para siswa sebenarnya kita bisa saja memutus rantai itu dengan menumbuhkan imej dari remaja tersebut bahwa kita bias solider dalam banyak tetapi dalam ujian tunggu dulu. kita kerja sendiri-sendiri, dengan sikap seperti itu maka diharapkan akan meminimalisasi contek menyontek di kalangan remaja. Tumbuhkan rasa percaya diri dengan merasa puas akan hasil kerja sendiri. Mengubah kebiasaan. Mungkin pada awalnya memang bukan hal gampang, tapi kalau kita memang meniatkan dalam hati, percaya deh, nggak ada satu hal apa pun yang nggak mungkin.
Sumber : http://yudhim.blogspot.com/2009/03/contoh-makalah-contek-mencotek-di.html
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.
Ciri-ciri Penalaran :
1. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika( penalaran merupakan suatu proses berpikir logis ).
2. Sifat analitik dari proses berpikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Perasaan intuisi merupakan cara berpikir secara analitik.
Contohnya :
Logam 1 dipanasi dan memuai
Logam 2 dipanasi dan memuai
Logam 3 dipanasi dan memuai
Dan seterusnya
Jadi intinya semua logam yang dipanasi memuai
Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran.
Kebenaran dapat dicapai jika syarat ± syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
1. Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatuyang memang benar atau sesuatu yang memang salah
2. Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semuapremis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formalmaupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dariaturan ± aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yangdijadikan sebagai premis tepat.
2. Induksi
Penalaran induksi adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Dalam arti lain menyebutkan penalaran induktif yaitu mengamati secara langsung.
Contohnya : gagasan utama paragraph terdapat di akhir (induksi) yaitu kebetulan mobilnya dilengkapi Automatic Verhicle Location (AVL),system pemantau lokasi kendaraan yang terhubung dengan satelit Global Positioning Sistem (GPS). Posisi mobil selalu diketahui dari peta digital yang terpasang di mobil atau operator pemantaunya.
Jenis-jenis penalaran induktif adalah :
1. Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contohnya :
Pato adalah pemain sepak bola berskill tinggi
Robinho adalah pemain sepak bola berskill tinggi
Generalisasi : Semua pemain sepak bola Brazil berskill tinggi. Pernyataan “Semua pemain sepak bola Brazil berskill tinggi” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
3. Deduksi
Penalaran deduksi adalah suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan atau paragraf dengan kalimat utama di awal, kemudian diikuti oleh kalimat penjelas
Contohnya :
Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional. Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalaubelajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di bukukumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari dibuku
Ada 2 macam penalaran deduksi :
1. Menarik kesimpulan secara langsung
Menarik simpulan secara langsung ditarik dari satu premis
2. Menarik simpulan secara tidak langsung
Menarik simpulan secara tidak langsung merupakan balikan dari seara langsung dimana pada secara tidak langsung membutuhkan 2 buah premis sebagai datanya.
Penalaran secara tidak langsung terbagi atas :
1. Silogisme kategorial
Silogisme yang terjadi dari 3 proposis yang mana dua proposisi awal sebagai premis dan satu sisanya sebagai simpulan
2. Silogisme hipotesis
Silogisme terdiri dari atas premis major yang berproposisi kondisional hipotesis, kalau premis minornya membenarkan anteseden, simpulan membenarkan konsekuensi
3. Silogisme alternative
Silogisme terdiri atas premis mayor yang berupa proposisi alternative, kalau premis minornya membenarkan salah satu alternative maka simpulan akan menolak alternative yang lain
4. Entimen
Silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum
Sumber :
www.google.com
http://wiki.bestlagu.com/news/166340-contoh-penalaran-induksi-generalisasi.html
http://jemeinulle.blogspot.com/2010/03/contoh-paragraf-induksi-dan-deduksi.html
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/filsafat_ilmu/bab6-penalaran.pdf
http://www.scribd.com/doc/25095005/Contoh-Paragraf-Deduktif-Induktif
http://www.scribd.com/doc/50370346/PENGERTIAN-PENALARAN-SECARA-UMUM
http://v4z4.wordpress.com/2010/05/13/pengertian-penalaran/
ANALISIS PENGARUH FAKTOR-FAKTOR EKUITAS MEREK SEPEDA
MOTOR MEREK HONDA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN
NAMA : YERINE EMANDA
KELAS : 3EA05
NPM : 12209471
UNIVERSITAS GUNADARMA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Pemasaran pada dasarnya adalah membangun merek di benak konsumen. Kekuatan merek terletakpada kemampuannya untuk mempengaruhi perilaku pembelian. Merek diyakini mempunyai kekuatan yang besar untuk memikat orang untuk membeli produk atau jasa yang diwakilinya. Perkembangan industry sepeda motor di Indonesia dengan bermacam merek yang digunakan oleh perusahaan produsennya juga menjadikan isu merek ini menjadi sangat strategis dikarenakan dapat menjadi sarana bagi perusahaan untuk mengembangkan dan memelihara loyalitas pelanggan. Merek yang kuat akan membangun loyalitas, dan loyalitas akan mendorong bisnis terulang kembali. Merek yang kuat juga akanmenghasilkan harga yang menarik dan menjadi penghalang bagi masuknya pesaing. Melalui Tabel I.1 diketahui bahwa penjualan sepeda motor Honda merek mengalami penurunan dari tahun 2005 hingga tahun 2007. Sedangkan penjualan sepeda motor merek Yamaha mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahunnya.
Dari Tabel I.2 dapat dilihat untuk tahun 2007, total penjualan sepeda motor merek Honda bersaing ketat dengan pesaingnya yaitu merek Yamaha. Secara khusus pada bulan Maret dan Mei 2007, penjualan sepeda motor merek Yamaha melampaui penjualan sepeda motor merek Honda. Data penjualan sepeda motor di Sumatera Utara dapat dilihat pada Tabel I.3 dan di Kota Medan pada khususnya yang ditunjukkan pada Tabel I.3 juga menunjukkan bahwa sepeda motor merek Yamaha merupakan yang paling besar peningkatan penjualannya dibandingkan dengan sepeda motor merek Honda dan Suzuki. Demi menjangkau pangsa pasar potensial baru yaitu dari kaum wanita yang didasarkan pada tingginya angka penjualan sepeda motor otomatis merek Yamaha Mio dari Yamaha, PT. Astra Honda Motor kemudian meluncurkan varian sepeda motor Vario, dan Suzuki Indonesia mengeluarkan produk Suzuki Spin-nya untuk menandingi dan meraih pangsa pasar yang sangat potensial tersebut yang sebelumnya belum pernah tersegmentasi dan diperhatikan secara khusus oleh para produsen sepeda motor.
Tabel I.1. Data Penjualan Tiga Besar Produsen Sepeda Motor di Indonesia Tahun 2004 – 2007 (dalam ribuan unit)
Sumber: www.wartaekonomi.com, 2007
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas dapat ditarik perumusan masalah sebagai berikut:
Bagaimana pengaruh faktor-faktor ekuitas merek sepeda motor Honda terhadap keputusan pembelian?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka dapat disusun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
Untuk mengetahui dan menganalisis ekuitas merek mana yang berpengaruh lebih signifikan pada merek sepeda motor Honda terhadap keputusan pembelian, dimana keempat dimensi ekuitas merek tersebut terdiri dari kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek dan bagaimana pengaruh ekuitas merek terhadap keputusan pembelian sepeda motor merek Honda.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Ekuitas Merek
Banyak literature tentang ekuitas merek. Menurut Stanton dalam Rangkuti (2002) “Merek adalah nama, istilah, simbol atau desain khusus atau beberapa kombinasi unsur-unsur ini yang dirancang untuk mengidentifikasikan barang atau jasa yang ditawarkan oleh penjual”. Menurut Retnawati (2003) ”Merek menjadi sangat strategis bagi perusahaan dikarenakan adanya manfaat yang diberikan bagi penjual dan pembeli karena:
1)Pengelolaan merek yang efektif dimungkinkan dapat mempertahankan kesetiaan konsumen yang ada, nantinya bisa dipakai untuk menghambat serangan pesaing dan membantu memfokuskan program pemasaran
2)Merek dapat membantu dalam melakukan segmentasi pasar
3)Citra perusahaan dapat dibangun dengan merek yang kuat dan memberi peluang dalam peluncuran merek-merek baru yang lebih mudah diterima oleh pelanggan dan distributor
4)memberikan ciri-ciri produk yangunik dan perlindungan hukum (hak paten) yang dapat mempermudah prosedur klaim apabila terdapat cacat produksi pada produk yang dibeli oleh konsumen”
Menurut Simamora (2003),ekuitas merek disebut juga nilai merek, yang menggambarkan keseluruhan kekuatan merek di pasar. Ekuitas merek memberikan suatu keunggulan kompetitif bagi sebuah perusahaan karena orang lebih cenderung membeli produk yang membawa nama merek terkenal dan dihormati.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekuitas Merek
Kesadaran Merek (Brand Awareness)
Menurut Aaker (1997) Kesadaran Merek adalah kesanggupan seorang pembeli untuk mengenali dan mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan perwujudan kategori produk tertentu. Kesadaran merek membutuhkan jangkauan kontinumdari perasaan yang tak pasti bahwa merek tertentu dikenal menjadi keyakinan bahwa produk tersebut merupakan satu-satunya dalam kelas produk bersangkutan, kontinum ini dapat diwakili oleh tingkat kesadaran merek yang berbeda.
Jangkauan kontinum ini diwakili oleh 4 tingkatan kesadaran merek, yaitu:
Tidak Menyadari Merek
Merupakan tingkatan merek yang paling rendah dimana konsumen tidak menyadari akan eksistensi suatu merek.
Pengenalan Merek (Brand Recognition)
Merupakan tingkat minimal dari kesadaran merek yang merupakan pengenalan merek dengan bantuan, misalnya dengan bantuan daftar merek, daftar gambar, atau cap merek. Merek yang masuk dalam ingatan konsumen disebut brandrecognition.
Pengingatan Kembali Merek (Brand Recall)
Mencerminkan merek-merek apa saja yang diingat konsumen setelah menyebutkan merek yang pertama kali disebut. Dimana merek-merek yang disebutkan kedua, ketiga dan seterusnya merupakan merek yang menempati brand recall dalam benak konsumen.
Puncak Pikiran (Top of Mind)
Yaitu merek produk yang pertama kali disebutkan oleh konsumen secara spontan atau yang pertama kali dalam benak konsumen. Dengan kata lain merek tersebut merupakan merek utama dari berbagai merek yang ada dalam benak konsumen.
Kesan Kualitas (Perceived Value)
Menurut Aaker (1997) ”Kesan atau persepsi kualitas merupakan persepsi konsumen terhadap
keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan yang sama dengan
maksud yang diharapkannya”. Secara umum nilai-nilai atau atribut dari kesan konsumen dapat digambarkan sebagai berikut:
Sumber: Rangkuti (2002)
Gambar I.2. Diagram Nilai dari Kesan Kualitas
Persepsi/kesan kualitas dibagi menjadi 5 bagian:
Alasan membeli
Kesan kualitas sebuah merek memberikan alasan yang penting untuk membeli. Hal ini mempengaruhi merek-merek mana yang harusdipertimbangkan, dan selanjutnya mempengaruhi merek apa yang akan dipilih.
Diferensiasi/posisi
Diferensiasi mempunyai didefinisikan sebagai suatu karakteristik penting dari merek, apakah merek tersebut bernilai atau ekonomis juga berkenaan dengan persepsi apakah merek tersebut terbaik atau sekadar kompetitif terhadap merek-mereklain.
Harga optimum
Keuntungan ini memberikan pilihan-pilihan dalam menetapkan harga optimum yang bisa meningkatkan laba atau memberikan sumber daya untuk reinvestasi pada merek tersebut.
Minat Saluran distribusi
Keuntungan ini yaitu meningkatkan minat para distributor dikarenakan dapat menawarkan suatu produk yang memiliki persepsi kualitas tinggi dengan harga yang menarik dan menguasai lalu lintas distribusi tersebut untuk menyalurkan merek-merek yang diminati konsumen.
Perluasan Merek
Kesan kualitas dapat dieksploitasi dengan cara mengenalkan berbagai perluasan merek, yaitu dengan menggunakan merek tertentu untuk masuk kedalam kategori produk baru.
Asosiasi Merek
Asosiasi merek menciptakan nilai bagi perusahaan dan para pelanggan, karena ia dapat membantu proses penyusunan informasi untuk membedakan merek yang satu dengan merek lainnya. Berbagai asosiasi yang diingat konsumen dapat menghasilkan suatu bentuk citra tentang merek di mata konsumen. Menurut Aaker (1997) Asosiasi merek adalah segala hal yang berkaitan dengan ingatanmengenai merek.
Ada lima keuntungan asosiasi merek, yaitu:
1) Membantu proses penyusunan informasi yang dapat meringkaskan sekumpulan fakta yang dapat dengan mudah dikenal konsumen
2) Perbedaan yang mempunyai peran penting dalam menilai keberadaan atau fungsi suatu merek dibandingkan lainnya
3) Alasan untuk membeli, yang sangat membantu konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli produk atau tidak;
4) Perasaan positif yang merangsang tumbuhnya perasaan positif terhadap produk; 5) Menjadi
landasan untuk perluasan merek yang dinilai kuat”. Konsumen yang terbiasa menggunakan merek tertentu cenderung memiliki konsistensi terhadap citra merek (brand image) yang disebut juga dengan kepribadian merek yang kemudian dapat membentuk kesetiaankonsumen terhadap merek tertentu
Loyalitas Merek
Loyalitas merek merupakan inti dari yang menjadi gagasan sentral dalam pemasaran, karena hal ini merupakan suatu ukuran keterkaitan seorang pelanggan pada sebuah merek. Apabila loyalitas merek meningkat maka kerentaan kelompok pelanggan dari serangan kompetitor dapat dikurangi. Hal ini merupakan suatu indikator dari yang berkaitan dengan perolehan laba dimasa yang akan datang karena loyalitas merek secara langsung dapat diartikan sebagai penjualan di masa depan.
Sumber: Rangkuti (2002)
Gambar I.3. Piramida Loyalitas
Dari gambar diatas dapat disimpulkan :
1. Tingkat loyalitas yang paling dasar adalah pembeli yang tidak tertarik pada merek-merek
apapun yang ditawarkan. Konsumen seperti ini suka berpindah-pindah merek atau disebut tipe konsumen switcher atau price buyer (konsumen yang lebih memperhatikan harga di dalam melakukan pembelian)
2. Tingkat kedua adalah para pembeli yang merasa puas dengan produk yang digunakan, atau minimal tidak mengalami kekecewaan. Pada dasarnya tidak terdapat dimensi ketidak puasan
yang dapat menjadikan sumber perubahan,apalagi bila perpindahan ke merek yang lain itu
ada penambahan biaya. Para pembeli tipe ini dapat disebut pembeli tipe kebiasaan (habitualbuyer).
3. Tingkat ketiga berisi orang-orang yang puas, tetapi harus memikul biaya peralihan (switching cost), baik dalam waktu, uang atau resiko sehubungan dengan upaya untuk melakukan pergantian ke merek lain. Kelompok ini biasanya disebut dengan konsumen loyal yang merasakan adanya suatu pengorbanan apabila ia melakukan penggantian ke merek lain. Para pembeli tipe ini disebut satisfied buyer.
4. Tingkat keempat adalah konsumen yang benarbenar menyukai suatu merek Pilihan mereka terhadap suatu merek dilandasi pada suatu asosiasi, seperti simbol, rangkaian pengalaman, atau kesan kualitas yang tinggi. Konsumen jenis ini memiliki perasan emosional dalam menyukai merek tersebut. Tingkat teratas adalah para pelanggan yang setia yang merasakan kebanggaan ketika menjadi pengguna suatu merek karena merek tersebut penting bagi mereka baik dari segi fungsi maupunsebagai alat identitas diri.
Teori Keputusan Pembelian
Menurut Kotler (2000) terdapat empat jenis perilaku pembelian konsumen, yaitu:
1) Perilaku pembelian yang rumit: perilaku ini lazim terjadi bila produknya mahal, jarang dibeli,
berisiko, dan sangat mengekspresikan pribadi;
2) Perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan/ketidakcocokan: perilaku ini terjadi bila konsumen melihat sedikit perbedaan di antara merek dan tidak ada yang menonjol, didasarkan kenyataan bahwa pembelian itu mahal dan berisiko, pembeli akan memilih sambil mempelajari apa yang tersedia namun akan membeli dengan cepat
3) Perilaku pembelian karena kebiasaan: konsumen tidak membentuk sikap terhadap sebuah merek tetapi memilihnya karena itu sudah biasa dikenalnya, tidak dilakukan pencarian informasi tentang merek
4) Perilaku pembelian yang mencari variasi: kondisi keterlibatan konsumen rendah tetapi ditandai oleh perbedaan merek yang nyata.Perusahaan harus berusaha memastikan kepuasan konsumen pada semua tingkat dalam proses pembelian.
Untuk dapat menjelaskan hubungan antara tahapan berdasarkan Gambar II.4 di atas dapat dilihat pada perincian yang dikemukakan oleh Setiadi (2003) sebagai berikut:
Setiadi (2003) :
1) Proses pengenalan kebutuhan, yaitu ketika konsumen mengenali adanya masalah atau kebutuhan. Kebutuhan itu akan digerakkan oleh rangsangan dari dalam maupun dari luar dirinya
2) Proses pencarian informasi. Tahap ini merupakan tahapan yang merangsang konsumen untuk mencari informasi lebih banyak mengenai suatu produk
3)Evaluasi berbagai alternatif merek. Pada tahapan ini konsumen menggunakan informasi untuk
mengevaluasi merek alternatif dalam menentukan peringkat produk untuk dipilih
4) Pilihan atas merek produk untuk dibeli, dimana terjadi pembelian produk atas merek yang disukai berdasarkan peringkat dari tahapan 3, tetapi faktor situasi dan pendapat orang lain juga menentukan dalam tahapan ini
5) Perilaku pasca pembelian. Kepuasan konsumen harus dipantau dari mulai pasca pembelian, tindakan pasca pembelian dan pemakaian produk pasca pembelian.
Pemasaran merupakan permerekan itu sendiri. Suatu permerekan yang tepat akan mempermudah penjualan produk. Permerekan yang tepat akan menarik minat massa untuk datang, melihat dan akhirnya memiliki produk itu. Jika konsumen yang datang telah menyukai strategi merek yang dipromosikan, maka mereka akan melakukan apa saja di dalam batasan tertentu demi merek yang diinginkan, termasuk dalam pembelian terhadap produk atas merek yang diinginkan
2.1.1 Definisi Operasional
Kountur (2007) mengatakan bahwa definisi operasional adalah suatu definisi yang memberikan penjelasan atas suatu variabel dalam bentuk yang dapat diukur. Definisi operasional ini memberikan informasi yang diperlukan untuk mengukur variabel yang akan diteliti. Dengan kata lain, definisi operasional adalah definisi yang dibuat oleh peneliti itu sendiri.
Suyanto dan Salamah (2009) mengatakan bahwa definisi operasional yaitu konsep atau teori yang dapat diukur (measureable) atau diamati (observable).
Nazir (2009) mengatakan bahwadefinisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu konstruk dengan menggunakan konstruks yang lain.
Berdasarkan uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa definisi operasional adalah suatu definisi diberikan oleh peneliti dan sekaligus memberikan penjelasan tentang cara mengukur masing-masing variabel penelitian. Misalnya dalam ukuran berat, ukuran waktu, ukuran kecepatan, ukuran unit, ukuran mata uang, ukuran persentase dan lain sebagainya.
Tabel I.5. Definisi Operasional
Variabel
Definisi operasional
Indikator
Skala pengukuran
1
2
3
4
Kesadaran merek (X1)
Kesanggupan konsumen mengingat merek sepeda motor sebagai kategori produk tertentu, baik melalui tingkat kepopuleran maupun media promosi yang membedakan dengan pesaing.
1. Pengenalan merek 2. Media iklan 3. Kegiatan Promosi
Skala Likert
Kesan kualitas (X2)
Persepsi atau kesan yang didapat konsumen terhadap penilaian kualitas secara keseluruhan terhadap suatu merek sepeda motor
1. Kinerja produk 2. Rancangan produk/desain 3. Nilai fungsional-harga jual 4. Kesempurnaan produk 5. Nilai emosional-kenyamanan
Skala Likert
Asosiasi merek (X3)
Kesan yang muncul di benak konsumen setelah melakukan penilaian terhadap merek sepeda motor pilihan dibandingkan dengan merek sepeda motor lainnya
1. Harga produk 2. Keamanan produk 3. Lokasi penjualan dan purna- jual
Skala Likert
Loyalitas merek (X4)
Keterikatan konsumen terhadap sebuah merek sepeda motor yang mencakup rasa kesetiaan dan kepuasan konsumen terhadap merek sepeda motor pilihan dibandingkan dengan merek sepeda motor lainnya
1. Merek Prioritas 2. Minat pembelian ulang 3. Peralihan ke merek lain
Skala likert
Keputusan Pembelian (Y)
Kegiatan penentuan pemilihan produk/jasa oleh konsumen yang umumnya terdiri dari lima tahapan yaitu:
Pengenalan Masalah: 1. Pemenuhan Kebutuhan 2. Produk komoditas
Skala likert
Pengenalan Masalah, Pencarian Informasi, Evaluasi Alternatif, Keputusan Pembelian, dan Perilaku Pasca Pembelian
Pencarian Informasi: 1. Hambatan informasi 2. Pengamatan produk 3. Penilaian media promosi
Skala likert
Evaluasi Alternatif:
Skala likert
1. Nilai prestise produk 2. Harga beli secara umum 3. Nilai jual kembali 4. Standar kualitas
5. Nilai ekonomis
Keputusan Pembelian: 1. Pengaruh orang lain 2. Keinginan dan kemampuan
Skala likert
Perilaku Pasca Pembelian
Skala likert
1. Penilaian terhadap kualitas 2. Nilai jangka panjang 3. Rekomendasi kepada orang lain
4. Nama baik produsen
BAB III
METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa USU yang mengikuti Program Doktor, Program Magister, Pendidikan Profesi, Program Sarjana, Program Ekstensi, dan Program Diploma dan juga seluruh staf administrasi maupun dosen USU yang terdaftar dan aktif mengikuti perkuliahan serta bekerja periode tahun akademik 2007/2008 yaitu sebanyak 34.862 orang . Sehingga diperoleh jumlah sampel yaitu sebanyak 100 responden.
Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan daftar pertanyaan (questionaire) dan dengan menggunakan studi dokumentasi.
Sumber: Rangkuti (2002)
Gambar I.5. Konsep Ekuitas Merek yang Mempengaruhi Proses Keputusan Pembelian
Model Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis statistik regresi linier berganda dengan menggunakan software SPSS (Statistical Package for Social Science) versi 12. Hipotesis mengungkapkan bahwa kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap sepeda motor merek Honda. Persamaan regresinya adalah sebagai berikut:
Y = a + B1X1 + B2X2 + B3X3 + B4X4 + e
Keterangan:
Y = Keputusan pembelian konsumen
a = konstanta
B1, B2, B3, B4 = koefisien regresi
X1 = Kesadaran merek
X2 = Kesan kualitas
X3 = Asosiasi merek
X4 = Loyalitas merek
e = epsilon atau variabel yang tidak diteliti
Dengan tingkat kepercayaan (confidence interval)
95% atau α = 0,05
HASIL PENELITIAN
Semua variabel penelitian telah memenuhi persyaratan yaitu uji validitas dan reliabilitas. Bila korelasi positip dan r tabel sebesar atau sama dengan 0,30 maka butir instrumen tersebut dinyatakan valid atau memiliki validitas konstruk yang baik (Sugiyono: 2004). Menurut Sekaran (2005) yang kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima dan reliabilitas dengan Cronbach alpha 0,8 atau di atasnya adalah baik.
HASIL PENGUJIAN HIPOTESIS
Pengujian Hipotesis Secara Serempak
Hasil uji-F berdasarkan Tabel I.6 diperoleh nilai Fhitung sebesar 27,75 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.000. Nilai Ftabel dicari pada tabel F dengan df1 = 4 dan df2 = 95 sehingga diperoleh nilai Ftabel sebesar 2,53 dengan hasil tersebut dimana Fhitung > Ftabel dan nilai signifikan yang lebih kecil dari pada alpha 5% maka kesimpulan yang dapat diambil adalah signifikan secara statistik. Hipotesis Ha diterima karena Fhitung > Ftabel (27,75 > 2,53) dan signifikan F < alpha 5% (0,000 < 0,05) yang berarti bahwa secara bersama-sama terdapat pengaruh signifikan antara variabel bebas yaitu kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek terhadap variable terikat yaitu keputusan pembelian. Kemampuan variabel kesadaran merek (X1), kesan yang dirasakan (X2), asosiasi merek (X3), dan loyalitas merek (X4) menjelaskan pengaruhnya terhadap keputusan pembelian sepeda motor merek Honda (Y) ditunjukkan pada Tabel I.7.
Nilai R Square (R2) adalah sebesar 0,620 atau sama dengan 62%. R Square disebut juga sebagai koefisien determinasi. Nilai tersebut berarti bahwa sebesar 62% keputusan pembelian yang terjadi dapat dijelaskan dengan menggunakan variabel kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek. Sisanya yaitu sebesar 38% dijelaskan oleh faktor-faktor penyebab lainnya, dan model dinyatakan layak.
Untuk menguji pengaruh faktor-faktor ekuitas merek yang terdiri dari kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap sepeda motor merek Honda di lingkungan USU digunakan uji statistik t (uji t). Apabila nilai thitung > nilai ttabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Sebaliknya apabila nilai thitung < nilai ttabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak. Hasil pengujian hipotesis secara parsial dapat dilihat pada Tabel 1.8.
Berdasarkan hasil regresi linier berganda yang diolah dengan menggunakan bantuan software SPSS versi 12, maka diperoleh hasil persamaan regresi sebagai berikut:
Dari Tabel I.8 diperoleh nilai thitung dari setiap variabel independen di dalam penelitian ini. Nilai thitung dari setiap variabel independen akan dibandingkan dengan nilai ttabel dengan menggunakan tingkat kepercayaan (confidence interval) 95% atau α = 0,05 maka diperoleh nilai ttabel 1,960.
Tabel I.6. Hasil Pengujian Hipotesis Secara Serempak
Model
Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
1
Regression
1909.628
4
477.407
27.750
.000(a)
Residual
1634.372
95
17.204
Total
3544.000
99
a Predictors: (Constant), X1,X2,X3,X4
b Dependent Variable: Keputusan Pembelian
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data diolah)
Tabel I.7. Nilai Koefisien Determinansi (R2)
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1
.788(a)
.620
.600
1.94905
a Predictors: (Constant), Kesadaran Merek, Kesan Kualitas, Asosiasi Merek, Loyalitas Merek
b Dependent Variable: Keputusan Pembelian
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data diolah)
Tabel I.8. Hasil Pengujian Hipotesis Secara Parsial
Standardized
Model
Unstandardized Coefficients
Coefficients
T
Sig.
B
Std. Error
Beta
B
Std. Error
1
(Constant)
17.475
4.156
4.205
.008
Kesadaran Merek
.079
.284
.022
.277
.782
Kesan Kualitas Asosiasi Merek
.828 .734
.245 .319
.301 .174
3.373 2.301
.001 .024
Loyalitas Merek
1.328
.291
.418
4.564
.000
a Dependent Variable: Keputusan Pembelian
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data diolah)
Sumber :
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 48 – 58